Minggu, 01 Januari 2012

YU PAINI

Masih tengah malam aku harus menahan kantuk menjemput kang Sup di stasiun.Ya ….mengadu nasib ke Jakarta.Katanya sudah tak tahan,hampir tiap saat diuber-uber tim penertiban.Lari sambil nggotong dagangan mainan anak-anak.Kejadian seperti itu sudah menjadi pemandangan rutin.Makanya lewat SMS kuusulkan untuk pulang saja,apasalahnya mencoba berjualan di desa.

Terdengar suara motor membuntutiku,motor yang masih kinyis-kinyis,tentu cash,ndak seperti aku ndak ngoyo ya ndak punya.Pa lagi motor sekarang sudah menjadi barang kebutuhan.Setiap hari aku kan harus antar anak-anakku yang masih TK,dan SD ke sekolah,belum lagi sore hari ada saja katanya les.Les apa tuh,ndak paham aku.Aku miris lha anak-anak SMP sekarang katanya les lha kok banyak yang pacaran.Pake motor bagus-bagus itu.

Pantesan ada yang bilang hari gini hampir tak ada yang ndak punya motor,lha wong dengan uang muka dikit aja sudah boleh bawa pulang.Itupun masih ada bonus jacket,kadang alat-alat elektronik bahkan perhiasan,tinggal pilih.

Tapi jangan tanya ketika uang angsuran ndak beres sekali saja,penagih-penagih itu jahat dengan kata-kata yang memerahkan telinga.Tak jarang angsuran macet hanya beberapa kali saja motor langsung diambil paksa.Sebenarnya cerita seperti itu sudah ndak asing lagi.Orang-orang sudah biasa dengar atau lihat orang eyel-eyelan,lha di tv aja yang katanya orang terhormat sebagai anggota DPR kasih contoh gegeran melulu.

Yu…..Yu Bingah ,Jam segini mau kemana?”

Suara yang sangat kukenal mengagetkan lamunan”Oalah ……….Sampeyan to,ini lho mau njemput bapakne thole”

“Wah,mudik pasti bawa duwit banyak to,kalo lihat di tv,Jakarta itu rumahnya bagus-bagus dan pasti punya mobil bagus pula,uuueenak ya”

Mendengar kata-kata Yu Paini hanya kubalas dengan senyum getir.

Itulah anggapan banyak orang,dulu Kang Sup ya berawal dari keinginan menggebu nekad ,maunya ingin sukses kayak Thukul,Sule dan Omas.Ealah…….lha orang berwajah biasa kayak orang kampung kok enak cari duwit.Hanya berbekal nggedabrus bayarane ngedap-edapi.

Wis ya ati-ati”

Sekejap saja pandangan Yu Pini menghilang,sepeda motor lari sekencang kuda.Yu Paini,tetanggaku selalu runtang-runtung dengan suaminya berprofesi sebagai penjual sayur sudah biasa sejak pukul 02.00 pagi berangkat kulakan ke Pasar Besar.Sepanjang perjalanan dari desaku ke stasiun kebanyakan berpapasan dengan bakul-bakul.Ada bakul ayam,sayur,ketela,krupuk yang menggunung tanpa berpikir keselamatan.Tujuan utama bisa makan,bisa ngangsur motor dan ganti hp.

Bagaimana sekolah anak?Wah,bukannya sekolah gratis.Mungkin itu ya dampaknya , merasa ndak bayar,tentu anaknya rajin atau malas,mbolos ya ndak kepikir.Dengan sekolah gratis maka keuangan berubah aliran bukan untuk pendidikan melainkan untuk memenuhi barang-barang sesuai keinginan.

Sekolah gratis tanpa SPP,buku-buku gratis wah enak temen.Dulu waktu aku masih kecil saudaraku banyak,orangtua setengah mati membiayai.Dulu aku suka pelajaran kesenian yang pakai seruling.Teman-temanku podho beli.Aku ndak berani bilang mak.Tapi ndak kehilangan akal aku pinjam Kakak kelasku yo Kang Sup itu.

Dari pinjam saja aku pinter,anehnya teman-teman yang punya malah ada yang ndak bisa.Aneh……….aneh yo seperti sekarang ini.Anake orang kaya banyak lho yang ndak sekolah.Anak pejabat cari sekolah lha kok orang tuanya ikut-ikut ngatur.Wis ndak ngurus yang penting anak-anakku tak sekolahne sampai poool,apalagi pemerintah meluncurkan program beasiswa.

Sampai di stasiun kereta belum datang,kutunggu di luar biar tidak perlu bayar peron.Uang dua ribu mending untuk beli nasi bungkus to.Terkantuk-kantuk banyak nyamuk kadang berhembus angin pagi bau seng, kencing.Heran ya,kucing aja tau diri,lha kok manusia buang air kok sak enak dengkule.

“Dik…..dik,aku datang”.

“lho mana,mana bawaannya,tas atau karung,kok lenggang-lenggang kangkung?”

“Sudahlah,ayo kita pulang,tak critani nanti”

Makin bingung,bayangan pulang dari metropolitan pasti dibawakan oleh-oleh roti yang uenak hargane mahal,ya pokoke meski cuma incip-incip ikutan kaya acara kuliner di tv itu.Dengan wajah mbesengut,kuikuti Kang Sup.

“Eeeee………dik dik,ada kecelakaan”

“Lho, tampaknya aku kenal motor itu,jangan-jangan motor Yu Paini? Mana dia”Tak sabar langsung aku menyibak kerumunan orang.

“Mana mas yang kecelakaan?”

“Sudah diangkut pik up ke rumah sakit”

“Dik,ayo pulang,aku ngantuk”

Kuikuti apa kata Kang Sup,mudah-mudahan bukan yu Paini.Sampai di rumah sepi-sepi saja.Rumah Yu Paini juga,hanya terdengar kokok ayam bersahutan.Maklum anak-anaknya sudah bekerja di luar kota,dulu sekolahnya pinter-pinter.Yu Paini jualan itu kan hanya untuk ngisi kegiatan daripada nganggur,katanya.

Kubiarkan Kang Sup tidur,nanti kalo sudah longgar baru kutanya mengapa pulang kok ndak bawa bawaan sama sekali.Gayane kayak bos ndak mau repot.Pagi ini keinginan membuka oleh-oleh ternyata hanya ilusi,aku harus masak dulu menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anakku.Gampang saja nggoreng tahu,sambal kecap dan ada mentimun.

Terdengar suara motor yu Paini.Kudongakkan kepala,ya benar dengan menggotong karung besar-besar.Segera kubantu menata barang dagangan sesuai tempatnya.Begitulah tiap hari pekerjaan selagi anak-anaku sekolah.lumayan bisa untuk makan,kalo ada pesenan jajan apalagi.

“Yu Bing,Besuk ada pesenan jajan 500 kotak”

“Banyak amat,Yu,siapa yang punya hajat?”

“Mau ada rapat kepala desa se-kabupaten”

“Yu Bingah coba dikalkulasi belanjanya,kita perlu membuat lemper,martabak dan roti kukus”

Segera kuteliti barang yang harus dibeli dan disiapkan,Yu Paini ngajak mencoba memasak roti kukus ala coklat,orang menyebut brownis kukus.Kata Yu Paini brownis kukus Amanda yang terkenal itu berawal dari coba-coba.Karena bingung suami pensiun untuk menembah belanja.

Yu Paini suka sekali lihat tv kuliner,acar wanita,ketrampilan bukan sinetron seperti yang kulihat.

Selesai pekerjaan di rumah tetangga,segera pulang.Duh Gusti,suami masih ngorok.Kulihat acara lanjutan sinetron kemarin,sayang kalo tertinggal cerita.Sambil makan aku terpana bintang sinetronnya cantik-cantik,mulus,bajunya bagus,makanannya enak.

“Dik……..dik,bangun,kalo tidur tv ya dimatikan”

Ternyata suamiku telah membereskan pekerjaan rumah ,di pel bersih.Nampaknya dia membuat sesuatu,kuintip malu rasanya suamiku menyiapkan mainan anak-anak sederhana,buatan sendiri memanfatkan barang-barang bekas.

Terlihat pula Yu Paini masih sibuk melayani pembeli,suaminya memecah batok kelapa.

Jadi selama ini aku sering tertidur,capek lihat tv,kecapekan membayangkan indahnya dunia,kecapekan berpikir tanpa bekerja,makanya bayar listrik banyak,uang belanja kiriman Kang Sup selalu kurang.

SEBATAS USAHA

Pelajaran jam terakhir,suasana kelas yang panas,membuat siswa jelas tidak bergairah.Akan lebih indah bila guruku tidak mengajar.Hampir menyeluruh tangan menggerakkan buku dikipas-kipaskan.Ya,maklum sejak jam kedua warga sekolah yang tergabung grup drum band sekolahku harus berlatih untuk persiapan kirap dalam rangka hari jadi kotaku.Nampaknya tidak ada pula teman yang menyiapkan buku tanda ganti pelajaran.

“Selamat Siang anak-anak,sudah siap belajar?”

“Ya Bu”,memangnya boleh njawab tidak mau Bu?.Guru kadang egois,enak saja tak memikirkan situasi.Kelasku berada diatas,kebetulan karena listrik mahal mungkin, sering mati,sehingga tanpa kipas,bayangin aja.Mudah-mudahan dengan diganti Dirut PLN yang pekerja keras segera mampu meningkatkan dan tidak lagi byarpet.

“Anak-anak,meski cuaca panas,tetaplah kalian mampu memanfaatkan waktu,kali ini kita belajar tentang bagaimana menyusun acara.Tugas ini kalian membentuk kelompok,susunlah acara dan tampillah,pertemuan berikutnya harus sudah bisa tampil”

Ketika guruku bahasa ini menyuruh,tak ada siswa yang berani menolak.Tidak perlu menjawab dan yang pasti harus segera dilaksanakan.

“Wah…kalo begitu berarti boleh dong belajar di luar kelas?”Tanya si Rosyid yang memang dikenal bawel.Cowok tapi ember.Namun kebiasaan itu,diam-diam banyak pula yang setuju.Coba kalo Rosyid ndak usul belajar di luar,pasti menguap terus.

“Silahkan,yang penting kalian harus konsekuen!”

Segera kami membentuk kelompok terdiri 7 orang dengan tugas ,satu mc,satu sebagai ketua panitia,satu sebagai wali kota,satu sebagai yuri,tiga orang peserta pemilihan putri.

Belajar kelompok di luar kelas,cukup nyaman.Angin berhembus mengipasi murid-murid yang selonjor santai di lantai yang bersih.Karena semilir maka pelaksanaan diskusi untuk menentukan acara, pembagian tugas sampai properti yang diperlukan dapat disepakat denmgan mudah.

Pemilihan acara yang dipilih adalah“Pemilihan Putri 2010”.Anak-anak semangat sibuk dengan tugas masing-masing..Aku kebagian menjadi putri,sehingga bergabung dengan yuri dan mencoba menjawab pertanyaan yang dibuat .Bila pertanyaan menggunakan bhs Inggris maka kami juga menjawab dengan bahasa itu.

Cara jalan yang baik,menjawab,senyum semua harus kami pelajari persis menirukan acara audisi tv.Sesekali guruku melihat dan membetulkan misalnya sebagai putri tidak boleh berwajah cemberut.

Kami berlatih dengan sungguh-sungguh.Guruku hanya sesekali melihat dari jauh.Itu dirasa cukup menjadi pengawasan.Siswa akan mampu mengerti manfaat tugas dari guru,bila teknik pembelajaran seperti guruku itu.Suasana panas bisa di luar,jam terakhir dengan KD yang ringan.Tak semua guru mampu memilih Kompetensi Dasar yang sesuai dengan kondisi.

Ada juga sih,teman yang nylonong ke kantin,dengan gerak cepat sehingga tidak diketahui guru.Biasa Ega yang bertubuh tambun,maunya makan melulu.Sebentar-sebentar minum,makan camilan dan minum begirulah.Makanya ketika di dalam kelas pun suka curi-curi waktu.

Bel berbunyi,segera masuk kelas dan berdoa.Anak-anak berebut keluar.”Put………….jangan lupa hari minggu besok latihan di rumahmu”

“Oke deh”

Malam minggu di ruang keluarga,kusampaikan acara besuk pagi teman-teman akan hadir kerumah.Tentu mama tidak keberatan dan malah senang.Kebiasaan beliau pasti menyiapkan aneka makanan yang pasti disukai siapa saja.

“Putri……….telah mama siapkan untuk teman-temanmu ya,mama berdua ada acara arisan pegawai yang purna”.

“Iya ma,terima kasih”

Ortuku biasa menghampiri teman-teman yang purna,kasihan sudah sepuh-sepuh.Justru sudah sepuh biar bersilaturahmi,sebagai ajang diskusi tentang kesehatan,atau kegiatan yang bermanfaat.

“Put….Assalamu Alaikum”

“Waalaikum salam wr.wb,silahkan masuk teman-teman!”

Kelompok kami komitmen berlatih sungguh-sungguh.Kmi ingin mendapat nilai yang baik.Setelah itu menyantap habis makanan yang telah ditata di meja.Kemudian ketua klp mengingatkan tugas properti yang diperlukan dan harus dibawa besok pagi.

Sampailah jam pelajaran bahasa yang mendebarkan.Tangan gemetar.Guruku mengundi kelompok.Syukur kami no.undian 4.lumayan bisa bernafas lega minimal aku berkesempatan melihat penampilan kelompok lain.

Klp satu dengan acara lomba nyanyi,teman-teman tidak ragu menyanyi sambil berjoget sesuai irama kaset,membuat kami terhibur.Giliran klp 2 membawakan acara perpisahan kelas 9 ,yang berperan jadi kepala sekolah persis pakai pidato nasehat melulu.

”Anak-anakku …….Sebentar lagi kalian menempuh UN,ingat meraih prestasi hendaknya dengan cara-cara yang baik dengan belajar tekun ,berdoa dan jangan ada yang menyontek”

“Ya Pak,serentak teman-teman sambil uuuuuuuuuuuuuuuuuu”

Pinter-pinter ya,darimana dia bisa ngomong begitu.

Sedangkan klp 3 penyerahan hadiah mobil dengan properti kunci terbuat dari gabus.Wah semua hebat.

“Put……….Ayo siap-siap”

Aku masih terbengong-bengong,terlalu asyik mengamati penampilan teman-teman.Kini aduh hafalanku hilang,aku bertugas apa?Seolah dunia berputar dan aku tidak tau lagi………

Yang jelas aku merasa makin percaya diri maju dengan kostum putri yang cantik dan aku mampu menjawab pertanyaan yuri berbahasa Inggris dengan lancar bak putri Indonesia

“Put…………Sadarlah anakku”

“Ma …aku dimana ini,berapa nilai tampilanku?”

“Di rumah sakit,sabar ya kamu kena typus ”

“Putri,usahamu cukup bagus,tidak apalah sembuh dulu”

Lho itu suara guruku,aku tersipu

NGEGAME

Horeeeeeeeeeee nenek datang! Teriak adikku paling kecil

Segera seisi rumah berlari menyambut nenek yang datang dari kota kecil Madiun.Sebuah kota yang memiliki masakan khas pecel nan lezat.Pasti sekeluarga akan makan nasi pecel oleh-oleh nenekku.

Bukan itu saja dengan kehadiran nenek sama halnya income bertambah.Bisik-bisik tiap mau berangkat sekolah, nenek pasti menyelipkan uang beberapa lembar ribuan di saku kami.

Tentu itu membuat hari makin ceria aja,tak perlu diomeli ayah dan ibu yang mengharuskan melapor penggunaan uang tiap hari.Capek deh!.Dengan begitu aku akan membeli, berbuat sesukaku.

Berangkat sekolah bertemu si Rio,sang jagoan di kelasku.”Di,tak ajak mau?”

“Emangnya mau kemana?”

“Beres deh,kamu pasti kenyang n happy”

Penasaran juga aku,tidak biasanya dia menawariku”Oke dah”

Ternyata bukan masuk gerbang sekolah,malah mampir ngegame.

Jam pulang sekolah,pun ikut cabut. Membolos cerdas ,dan aman Begitulah sampai berkali-kali.

Suatu malam ayah memanggil,Udi sini,duduk!

Wih rupanya ada sesuatu pasti ,pasti pihak sekolah melayangkan surat panggilan ortu.Dengan berdebar kuikuti kata ayah.

“Selama ini ayah kurang membiayaimu?

“Tidak yah”

“Kenapa kamu tidak sekolah?

“Diajak teman yah”

“Sudah benar yang kamu lakukan?”

“Dengar kalo kamu nakal tidak mau belajar,apa yang ayah harapkan? Mau jadi apa kamu ha?”

Tak sanggup aku menatap ayah yang marah dengan merah muka.

“Jawab!,Sana ikut Rio yang anaknya orang kaya itu,jangan kamu samakan!.Kamu tidak kasihan ibumu!

“Tidak ayah,saya berjanji tidak mengulangi”

“Ya janjimu harus bisa dipertanggungjawabkan”

Esoknya aku berangkat ke sekolah lebih pagi,biar tidak bertemu Rio.Segera masuk gerbang sekolah dan amanlah dari pengaruh.Memasuki ruang kelas disoraki pembolos…………pembolos.

Tak kuhiraukan,kusimak keterangan guruku

Aku tertarik kata guru ekonomi”Anak-anak mestinya sejak dini kita berlatih bagaimana hidup hemat,marilah kita biasakan menabung dan menabung.Bukan membuang uang beli pulsa, ngegame,beli kaos,beli sepatu yang sampai terkesan berlebihan.Itu adalah perilaku hidup konsumtif”

“Anak-anak coba kalian renungkan negara kita kaya sumber daya alam.misalnya satu ton besi dikirim ke Jerman jadilah BMW yang harganya mencapai milyaran.Satu ton besi lagi dikirim ke Jepang jadilah Toyota,harganya tentu mencapai ratusan juta.Sedangkan satu ton besi kita serahkan pada rakyat Indonesia,kemudian menjadi pisau atau cangkul harga maksimum satu juta”

“Mengapa bisa demikian? Kalo ingin berharga mahal tentu harus pandai,kreatif,inovatif dan tentu mau bekerja keras.Hasilnya akan seperti orang-orang yang telah sukses.Banyak juga lho orang Indonesia yang sukses seperti Bob Sadino,Ciputra dan Dahlan Iskan”

Wah,hebat ya,kata guruku Bob Sadino dulunya hanya sebagai kuli bangunan sekarang yang punya bangunan mewah ,kok bisa ya.

“Bu,bisakah saya seperti mereka”

“Tak ada yang mengatakan tidak bisa,siapa yang sungguh-sungguh pasti akan memetik hasil”

Sampai di rumah aku masih terngiang=ngiang kata guruku,tidak ada yang sulit,semua akan terasa mudah kalo dilakukan dengan tekad yang bulat.Saat ini tiba-tiba merasa menyesal,mengapa waktu,kesempatan dan biaya tak kumanfaatkan.Aku ingin berlari mengejar ketinggalan.Aku harus banyak membaca,membaca apa saja yang membuatku bertambah ilmu.

Besok pagi ada kesempatan,aku akan pinjam buku perpustakaan.Seumur-umur belum pernah tau apa aja isinya.Biasanya kalo lewat melirik sekilas perpustakaan sekolahku identik dengan kumpulan buku-buku usang.Kayaknya pengunjung juga ndak begitu ada.

“Anak-anak,jam ketiga dan keempat,kalian nanti belajar sendiri,silahkan yang penting setiap siswa harus melaporkan selama dua jam apa yang dikerjakan”

“Iya,Bu,Bolehkah saya kami ke perpistakaan?”

“Wah……..Ide cemerlang itu Ud!”

Serentak teman-teman menertawakan,mengherankan,”Eeeeeeeee ada perubahan drastis rupanya,sedang mimpi,kali?”

“Teman-temanku,tolong deh temani pingin ke perpus,ada apanya disana?”

Anak-anak yang tergabung Geng star Agus,Rudi,Angga mengikutiku Ternyata perpustakaan sekolahku memiliki petugas yang ramah, banyak buku baru,ternyata banyak majalah,koran dan tabloid.

Segera tanda tangan pengunjung dan memilih bacaan yang kusuka.Ada bintang idolaku.Kubaca cermat,ternyata menjadi bintang dulunya juga banyak perjuangan.Contohnya bintang sepakbola dunia itu berlatih di lapangan yang becek,merupakan anak orang tidak mampu dan memiliki sikap rendah hati.

Sama aku juga ndak punya harta, beruntung sekolahku tak jauh dari rumah,itung-itung irit biaya dan mungkin pula keamanan.Jadi cukup on foot aja meski tak ada temanku yang tidak diantar ortu dengan mobilnya yang wah…….Tak apa.

Kini meski aku termasuk golongan ekonomi lemah,aku tak merasa rendah diri.Kata buku yang kubaca ,harga diri seseorang bukan diukur dengan uang atau harta tetapi dengan kepercayaan.Karena itu tak peduli ketika teman-temanku sibuk pamer hp baru,sepeda baru dengan harga jutaan yang mungkin setara gaji ayahku sekian bulan yang PNS rendahan.

“Aih,cucuku sudah pulang,ayo makan! “

“Terima kasih Nek”

Memang sejak ada nenek semua beres.Rumah bersih,makanan banyak.Yah maklum ibuku harus ikut orang menunggu toko milik tetangga mungkin demi mencukupi kebutuhan.

Perasaan bersalah mendorongku untuk bertekad mengumpulkan uang saku setiap hari dan akan kusimpan di Program Tabunganku. Aku ingin membuktikan menabung itu perlu? Tanpa berbuat tanpa praktek tentu aku tidak akan paham dan menjadi orang besar hanya sebatas mimpi.

AMINI FARIDA

GURU SMP NEGERI 3 MADIUN

CERDAS CERMAT

Dito namaku, kelas satu SMP. Usia yang bisa dibilang bukan anak kecil lagi. Kata mama selepas SD mestinya aku harus mulai punya tanggung jawab,mulai mandiri.Sebenarnya menu tiap hari pasti merdengar nasehat ortu mulai dari berpakaian,bergaul sampai hal detil siapkan perlengkapan sekolah sebelum tidur, pagi hari tas tinggal angkat.

Masih sangat pagi aku harus segera berangkat bersama ayah.Belum boleh aku naik sepeda,kata ayah semester dua aku baru boleh.Tentu aku tidak tau alasannya yang pasti aku menduga ibuku belum tega melepaskan aku yang sering ceroboh.

Pernah aku naik sepeda kelas enam menjelang ujian,karena tertabrak becak harus menjalani perawatan yang lama sampai ujian pun belum sembuh.Karena itu aku memaklumi.Saatnya nanti pasti aku diperbolehkan.

Hari sial bagiku.Tadi malam aku terlalu asyik menonton tv, sepak bola kesukaanku.Aku iri bayaran bintang sepak bola yang jutaan.Memangnya mereka tidak sekolah? Tapi aku bisanya nonton bukan main bola.Siapa yang mau nggaji? tak kusadari sangat menyita waktu belajarku sampai lupa tugas bahasa Indonesia.

Dalam perjalanan ke sekolah aku diam malas cerita sama papa.Repotnya cerita dikit yang tidak sesuai pasti berbuah kemarahan.Mending diam apalagi baru kuingat ada tugas yang belum kuselesaikan .Bisa mampus dengar papa,minimal uang saku ditahan.Payahlah.

Benar dugaanku,di kelas ketahuan siapa-siapa yang tidak mengerjakan tugas.Aku dimarahi dengan kata-kata yang menyinggung,

“Kenapa tidak mengerjakan,memangnya kamu disuruh orang tua cari uang,sampai lupa tugas?Lihat,mereka yang tidak punya tangan saja bisa berprestasi,kamu? Apa yang kurang? Bu Ratna memang marah,tetapi kalao direnungkan marahnya malah menjadi motivasi.

Malamnya mata tak kompromi diajak tidur,apa yang harus kulakukan?Mau marah ke guru memang iya,melanggar,mau mengerjakan tugas mata berkunang-kunang.Itukah hukuman orang bersalah?Serba tidak enak.

”Nak………….ada apa ?,Mengganggu amat kok belum tidur,apa yang kau pikirkan?”

Beruntung bukan papa,wah bisa heboh kalau ketahuan melanggar,

“I……iya ma,guruku memarahiku gara-gara disuruh maju ndak bisa”Memangnya tugas Dito disuruh apa?”“Dito disuruh membaca cerita di rumah,kemudian menceritakan kembali di depan teman-teman”

Mama kemudian menasehatiku kali lain tidak boleh melupakan tugas.Sebagai anak lelaki harus berani tanggung jawab.Tidak mengapa lupa asal segera melapor dan meminta maaf,bukan menyesali berlarut-larut. Apalagi sampai tidak bisa tidur,apa yang terjadi?Badan menjadi lesu,marah dan semua tidak ada yang menarik.Serasa ingin marah dan marah.

Benar juga kata mama, okelah aku harus segera menebus kesalahanku.Aku berdoa.Ya Tuhan berilah kemudahan untuk tidur pulas malam ini,agar aku bisa bangun pagi dan mampu mengerjakan tugas dengan baik.Amin

Pukul lima pagi alarm hp berbunyi,eit puji syukur Tuhan segar badanku.Setelah selesai berdoa,segera kuambil sebuah cerita dari sebuah majalah .Kubaca pelan-pelan,kuulangi sampai tiga bahkan empat kali.Kuingat kembali Bu Ratna menjelaskan,bacalah cerita,tulis inti dan ceritakan kembali.Kuikuti langkah-langkah itu dan aku bisa.Rasanya malah tidak ada yang sulit,bahkan mudah dan aku menyukai juga.Kejengkelan telah hilang dan aku harus berani menghadapi Bu Ratna.

Pukul tujuh bel telah berbunyi, jam pertama sungguh mendebarkan, pelajaran bahasa Indonesia.Lho………..kenapa menjadi takut?kenapa aku ?Terdengar bunyi sepatu guruku semakin dekat,itu artinya aku harus segera menghadap.Aku harus berani,harus berani.

“Selamat pagi anak-anak”

“Selamat pagu bu”,serentak semua menjawab,serasa halilintar membelah bumi.

“Anak-anak …..pagi ini silahkan melanjutkan tugas kemarin,maju satu persatu bercerita”Awalnya memang tidak nyaman,tetapi bila dibiasakan kalian akan merasa senang,bukankah di tv banyak anak seusiamu berani berbicara di hadapan orang banyak?”

Segera aku maju menghadap guruku,meski terhuyung-huyung dan takut.”Dito……….silahkan,bagus kamu maju tanpa ditunjuk”Sungguh kalimat lembut dan senyum buRatna membuatku mampu menghiburku.Karena itu PD aja dan aku mampu bercerita dengan lancar.Tepuk tangan riuh dari teman-teman.

“Dito……….hebat kamu,Dito telah membayar kesalahan kemarin dengan hasil yang lebih baik,Selamat ya”

Seminggu kemudian ,saat istirahat tiba Adin berlari-lari kearahku.”Dit….Dito,dengarlah kamu,Rina dan aku,Adin terpilih oleh dewan guru untuk mengikuti lomba cerdas cermat di tingkat Kota.Bertiga setiap pulang sekolah di drill,hampir semua materi,kecepatan mengerjakan matematika,fisika.Menghafal biologi dan percobaa-percobaan yang disampaikan melalui presentasi.

Persiapan lomba hampir setiap hari,melelahkan memang.Namun guruku tak lelah mengajari murid-murid menerangkan dari hal umum ke khusus atau sebaliknya..

Bertiga sepanjang hari membuat persahabatan yang kompak,pembagian materi aku bisa matematika,Adin Fisika dan Rina tekun dalam biologi. setiap saat guru-guru bergantian memberi motivasi dan membimbing kami terutama dalam eksperimen elektro terus-menerus dipantau..Heran bertiga seakan tak ada masalah yang berarti,itu membuat percaya diri tim bisa tunbuh,latihan berbagi soal juga lancar,dan mudah-mudahan sukses.

Menjelang lomba ada tiga guru yang mengantar,kami di cek alat-alat yang harus dibawa.Rasanya tidak ada lagi yang tertinggal.Penemuan elektro yang mampu menebak tanggal lahir orang lain pun telah kami siapkan.

Lomba dimulai,.Kutenangkan dulu,menghela nafas dan sebelum menjawab kusim,ak baik-baik perintahnya.Rina memang sehari-harinya sudah pandai berbicara,karena itu tak ada kesulitan menjelaskan jawaban tim. ada tepuk tangan,lega respon dari penonton membuat aku nyaman mengikuti cerdas cermat ini dan lancar sampai selesai.

Suasana penghitungan sangat mendebarkan,aku tidak berharap banyak,karena baru sekali ini ikut lomba.Aku baru sadar karena Bu Ratna sering menugasi murid-murid maju ,maka tim kami menjadi berani tampil.

Terdengar penjumlahan telah selesai dan tim kami sekonyomg-konyong disebut.Aku tak percaya.Saat itu juga teman-temanku memberi ucapan selamat meski aku masih terbengong-bengong.Bu Umi guru Fisika kami segera menyalami kata beliau tim kami telah mendapat juara pertama.

Mernjadi juara pertama,kalian tidak berhenti disini,kalian mendapat tugas selanjutnya mewakili kota maju berlaga di tingkat propinsi .Oke tobe ready

AMINI FARIDA

GURU SMP NEGERI 3 MADIUN