Masih tengah malam aku harus menahan kantuk menjemput kang Sup di stasiun.Ya ….mengadu nasib ke Jakarta.Katanya sudah tak tahan,hampir tiap saat diuber-uber tim penertiban.Lari sambil nggotong dagangan mainan anak-anak.Kejadian seperti itu sudah menjadi pemandangan rutin.Makanya lewat SMS kuusulkan untuk pulang saja,apasalahnya mencoba berjualan di desa.
Terdengar suara motor membuntutiku,motor yang masih kinyis-kinyis,tentu cash,ndak seperti aku ndak ngoyo ya ndak punya.Pa lagi motor sekarang sudah menjadi barang kebutuhan.Setiap hari aku kan harus antar anak-anakku yang masih TK,dan SD ke sekolah,belum lagi sore hari ada saja katanya les.Les apa tuh,ndak paham aku.Aku miris lha anak-anak SMP sekarang katanya les lha kok banyak yang pacaran.Pake motor bagus-bagus itu.
Pantesan ada yang bilang hari gini hampir tak ada yang ndak punya motor,lha wong dengan uang muka dikit aja sudah boleh bawa pulang.Itupun masih ada bonus jacket,kadang alat-alat elektronik bahkan perhiasan,tinggal pilih.
Tapi jangan tanya ketika uang angsuran ndak beres sekali saja,penagih-penagih itu jahat dengan kata-kata yang memerahkan telinga.Tak jarang angsuran macet hanya beberapa kali saja motor langsung diambil paksa.Sebenarnya cerita seperti itu sudah ndak asing lagi.Orang-orang sudah biasa dengar atau lihat orang eyel-eyelan,lha di tv aja yang katanya orang terhormat sebagai anggota DPR kasih contoh gegeran melulu.
“Yu…..Yu Bingah ,Jam segini mau kemana?”
Suara yang sangat kukenal mengagetkan lamunan”Oalah ……….Sampeyan to,ini lho mau njemput bapakne thole”
“Wah,mudik pasti bawa duwit banyak to,kalo lihat di tv,
Mendengar kata-kata Yu Paini hanya kubalas dengan senyum getir.
Itulah anggapan banyak orang,dulu Kang Sup ya berawal dari keinginan menggebu nekad ,maunya ingin sukses kayak Thukul,Sule dan Omas.Ealah…….lha orang berwajah biasa kayak orang kampung kok enak cari duwit.Hanya berbekal nggedabrus bayarane ngedap-edapi.
“
Sekejap saja pandangan Yu Pini menghilang,sepeda motor lari sekencang kuda.Yu Paini,tetanggaku selalu runtang-runtung dengan suaminya berprofesi sebagai penjual sayur sudah biasa sejak pukul 02.00 pagi berangkat kulakan ke Pasar Besar.Sepanjang perjalanan dari desaku ke stasiun kebanyakan berpapasan dengan bakul-bakul.Ada bakul ayam,sayur,ketela,krupuk yang menggunung tanpa berpikir keselamatan.Tujuan utama bisa makan,bisa ngangsur motor dan ganti hp.
Bagaimana sekolah anak?Wah,bukannya sekolah gratis.Mungkin itu ya dampaknya , merasa ndak bayar,tentu anaknya rajin atau malas,mbolos ya ndak kepikir.Dengan sekolah gratis maka keuangan berubah aliran bukan untuk pendidikan melainkan untuk memenuhi barang-barang sesuai keinginan.
Sekolah gratis tanpa SPP,buku-buku gratis wah enak temen.Dulu waktu aku masih kecil saudaraku banyak,orangtua setengah mati membiayai.Dulu aku suka pelajaran kesenian yang pakai seruling.Teman-temanku podho beli.Aku ndak berani bilang mak.Tapi ndak kehilangan akal aku pinjam Kakak kelasku yo Kang Sup itu.
Dari pinjam saja aku pinter,anehnya teman-teman yang punya malah ada yang ndak bisa.Aneh……….aneh yo seperti sekarang ini.Anake orang kaya banyak lho yang ndak sekolah.Anak pejabat cari sekolah lha kok orang tuanya ikut-ikut ngatur.Wis ndak ngurus yang penting anak-anakku tak sekolahne sampai poool,apalagi pemerintah meluncurkan program beasiswa.
Sampai di stasiun kereta belum datang,kutunggu di luar biar tidak perlu bayar peron.Uang dua ribu mending untuk beli nasi bungkus to.Terkantuk-kantuk banyak nyamuk kadang berhembus angin pagi bau seng, kencing.Heran ya,kucing aja tau diri,lha kok manusia buang air kok sak enak dengkule.
“Dik…..dik,aku datang”.
“lho mana,mana bawaannya,tas atau karung,kok lenggang-lenggang kangkung?”
“Sudahlah,ayo kita pulang,tak critani nanti”
Makin bingung,bayangan pulang dari metropolitan pasti dibawakan oleh-oleh roti yang uenak hargane mahal,ya pokoke meski cuma incip-incip ikutan kaya acara kuliner di tv itu.Dengan wajah mbesengut,kuikuti Kang Sup.
“Eeeee………dik dik,ada kecelakaan”
“Lho, tampaknya aku kenal motor itu,jangan-jangan motor Yu Paini? Mana dia”Tak sabar langsung aku menyibak kerumunan orang.
“Mana mas yang kecelakaan?”
“Sudah diangkut pik up ke rumah sakit”
“Dik,ayo pulang,aku ngantuk”
Kuikuti apa kata Kang Sup,mudah-mudahan bukan yu Paini.Sampai di rumah sepi-sepi saja.Rumah Yu Paini juga,hanya terdengar kokok ayam bersahutan.Maklum anak-anaknya sudah bekerja di luar kota,dulu sekolahnya pinter-pinter.Yu Paini jualan itu kan hanya untuk ngisi kegiatan daripada nganggur,katanya.
Kubiarkan Kang Sup tidur,nanti kalo sudah longgar baru kutanya mengapa pulang kok ndak bawa bawaan sama sekali.Gayane kayak bos ndak mau repot.Pagi ini keinginan membuka oleh-oleh ternyata hanya ilusi,aku harus masak dulu menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anakku.Gampang saja nggoreng tahu,sambal kecap dan ada mentimun.
Terdengar suara motor yu Paini.Kudongakkan kepala,ya benar dengan menggotong karung besar-besar.Segera kubantu menata barang dagangan sesuai tempatnya.Begitulah tiap hari pekerjaan selagi anak-anaku sekolah.lumayan bisa untuk makan,kalo ada pesenan jajan apalagi.
“Yu Bing,Besuk ada pesenan jajan 500 kotak”
“Banyak amat,Yu,siapa yang punya hajat?”
“Mau ada rapat kepala desa se-kabupaten”
“Yu Bingah coba dikalkulasi belanjanya,kita perlu membuat lemper,martabak dan roti kukus”
Segera kuteliti barang yang harus dibeli dan disiapkan,Yu Paini ngajak mencoba memasak roti kukus ala coklat,orang menyebut brownis kukus.Kata Yu Paini brownis kukus Amanda yang terkenal itu berawal dari coba-coba.Karena bingung suami pensiun untuk menembah belanja.
Yu Paini suka sekali lihat tv kuliner,acar wanita,ketrampilan bukan sinetron seperti yang kulihat.
Selesai pekerjaan di rumah tetangga,segera pulang.Duh Gusti,suami masih ngorok.Kulihat acara lanjutan sinetron kemarin,sayang kalo tertinggal cerita.Sambil makan aku terpana bintang sinetronnya cantik-cantik,mulus,bajunya bagus,makanannya enak.
“Dik……..dik,bangun,kalo tidur tv ya dimatikan”
Ternyata suamiku telah membereskan pekerjaan rumah ,di pel bersih.Nampaknya dia membuat sesuatu,kuintip malu rasanya suamiku menyiapkan mainan anak-anak sederhana,buatan sendiri memanfatkan barang-barang bekas.
Terlihat pula Yu Paini masih sibuk melayani pembeli,suaminya memecah batok kelapa.
Jadi selama ini aku sering tertidur,capek lihat tv,kecapekan membayangkan indahnya dunia,kecapekan berpikir tanpa bekerja,makanya bayar listrik banyak,uang belanja kiriman Kang Sup selalu kurang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar