Horeeeeeeeeeee nenek datang! Teriak adikku paling kecil
Segera seisi rumah berlari menyambut nenek yang datang dari
Bukan itu saja dengan kehadiran nenek sama halnya income bertambah.Bisik-bisik tiap mau berangkat sekolah, nenek pasti menyelipkan uang beberapa lembar ribuan di saku kami.
Tentu itu membuat hari makin ceria aja,tak perlu diomeli ayah dan ibu yang mengharuskan melapor penggunaan uang tiap hari.Capek deh!.Dengan begitu aku akan membeli, berbuat sesukaku.
Berangkat sekolah bertemu si
“Emangnya mau kemana?”
“Beres deh,kamu pasti kenyang n happy”
Penasaran juga aku,tidak biasanya dia menawariku”Oke dah”
Ternyata bukan masuk gerbang sekolah,malah mampir ngegame.
Jam pulang sekolah,pun ikut cabut. Membolos cerdas ,dan aman Begitulah sampai berkali-kali.
Suatu malam ayah memanggil,Udi sini,duduk!
Wih rupanya ada sesuatu pasti ,pasti pihak sekolah melayangkan
“Selama ini ayah kurang membiayaimu?
“Tidak yah”
“Kenapa kamu tidak sekolah?
“Diajak teman yah”
“Sudah benar yang kamu lakukan?”
“Dengar kalo kamu nakal tidak mau belajar,apa yang ayah harapkan? Mau jadi apa kamu ha?”
Tak sanggup aku menatap ayah yang marah dengan merah muka.
“Jawab!,
“Tidak ayah,saya berjanji tidak mengulangi”
“Ya janjimu harus bisa dipertanggungjawabkan”
Esoknya aku berangkat ke sekolah lebih pagi,biar tidak bertemu Rio.Segera masuk gerbang sekolah dan amanlah dari pengaruh.Memasuki ruang kelas disoraki pembolos…………pembolos.
Tak kuhiraukan,kusimak keterangan guruku
Aku tertarik kata guru ekonomi”Anak-anak mestinya sejak dini kita berlatih bagaimana hidup hemat,marilah kita biasakan menabung dan menabung.Bukan membuang uang beli pulsa, ngegame,beli kaos,beli sepatu yang sampai terkesan berlebihan.Itu adalah perilaku hidup konsumtif”
“Anak-anak coba kalian renungkan negara kita kaya sumber daya alam.misalnya satu ton besi dikirim ke Jerman jadilah BMW yang harganya mencapai milyaran.Satu ton besi lagi dikirim ke Jepang jadilah Toyota,harganya tentu mencapai ratusan juta.Sedangkan satu ton besi kita serahkan pada rakyat Indonesia,kemudian menjadi pisau atau cangkul harga maksimum satu juta”
“Mengapa bisa demikian? Kalo ingin berharga mahal tentu harus pandai,kreatif,inovatif dan tentu mau bekerja keras.Hasilnya akan seperti orang-orang yang telah sukses.Banyak juga lho orang
Wah,hebat ya,kata guruku Bob Sadino dulunya hanya sebagai kuli bangunan sekarang yang punya bangunan mewah ,kok bisa ya.
“Bu,bisakah saya seperti mereka”
“Tak ada yang mengatakan tidak bisa,siapa yang sungguh-sungguh pasti akan memetik hasil”
Sampai di rumah aku masih terngiang=ngiang kata guruku,tidak ada yang sulit,semua akan terasa mudah kalo dilakukan dengan tekad yang bulat.Saat ini tiba-tiba merasa menyesal,mengapa waktu,kesempatan dan biaya tak kumanfaatkan.Aku ingin berlari mengejar ketinggalan.Aku harus banyak membaca,membaca apa saja yang membuatku bertambah ilmu.
Besok pagi ada kesempatan,aku akan pinjam buku perpustakaan.Seumur-umur belum pernah tau apa aja isinya.Biasanya kalo lewat melirik sekilas perpustakaan sekolahku identik dengan kumpulan buku-buku usang.Kayaknya pengunjung juga ndak begitu ada.
“Anak-anak,jam ketiga dan keempat,kalian nanti belajar sendiri,silahkan yang penting setiap siswa harus melaporkan selama dua jam apa yang dikerjakan”
“Iya,Bu,Bolehkah saya kami ke perpistakaan?”
“Wah……..Ide cemerlang itu Ud!”
Serentak teman-teman menertawakan,mengherankan,”Eeeeeeeee ada perubahan drastis rupanya,sedang mimpi,kali?”
“Teman-temanku,tolong deh temani pingin ke perpus,ada apanya disana?”
Anak-anak yang tergabung Geng star Agus,Rudi,Angga mengikutiku Ternyata perpustakaan sekolahku memiliki petugas yang ramah, banyak buku baru,ternyata banyak majalah,koran dan tabloid.
Segera tanda tangan pengunjung dan memilih bacaan yang kusuka.Ada bintang idolaku.Kubaca cermat,ternyata menjadi bintang dulunya juga banyak perjuangan.Contohnya bintang sepakbola dunia itu berlatih di lapangan yang becek,merupakan anak orang tidak mampu dan memiliki sikap rendah hati.
Sama aku juga ndak punya harta, beruntung sekolahku tak jauh dari rumah,itung-itung irit biaya dan mungkin pula keamanan.Jadi cukup on foot aja meski tak ada temanku yang tidak diantar ortu dengan mobilnya yang wah…….Tak apa.
Kini meski aku termasuk golongan ekonomi lemah,aku tak merasa rendah diri.Kata buku yang kubaca ,harga diri seseorang bukan diukur dengan uang atau harta tetapi dengan kepercayaan.Karena itu tak peduli ketika teman-temanku sibuk pamer hp baru,sepeda baru dengan harga jutaan yang mungkin setara gaji ayahku sekian bulan yang PNS rendahan.
“Aih,cucuku sudah pulang,ayo makan! “
“Terima kasih Nek”
Memang sejak ada nenek semua beres.Rumah bersih,makanan banyak.Yah maklum ibuku harus ikut orang menunggu toko milik tetangga mungkin demi mencukupi kebutuhan.
Perasaan bersalah mendorongku untuk bertekad mengumpulkan uang saku setiap hari dan akan kusimpan di Program Tabunganku. Aku ingin membuktikan menabung itu perlu? Tanpa berbuat tanpa praktek tentu aku tidak akan paham dan menjadi orang besar hanya sebatas mimpi.
AMINI FARIDA
GURU SMP NEGERI 3 MADIUN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar